Showing posts with label Binatang. Show all posts
Showing posts with label Binatang. Show all posts

Thursday, April 14, 2011

Bagaimana Laba-Laba Bisa Keluarkan Jaring?

Laba-laba membuat sarang

Meski sering ditakui, sebagian besar laba-laba tak berbahaya. Menakjubkannya, laba-laba bisa membuat jaring yang kuat dan tahan lama melebihi serat apa pun di Bumi.

"Jaring laba-laba lebih tahan lama dan elastis dibanding serat buatan manusia terkuat, Kevlar, yang digunakan pada rompi antipeluru," kata ahli zoologi evolusioner dan ahli jaring laba-laba Fritz Vollrath di University of Aarhus, Denmark.

Menurut profesor emeritus teknik mesin John Lienhard di University of Houston, jaring laba-laba juga sangat lentur, bahkan bisa meregang 140% dari panjang asli tanpa putus. Untuk bahan perkasa seperti itu, jaring laba-laba sangat ringan.

Menurut buku terbitan 2007 “The Book of Animal Ignorance: Everything You Think You Know Is Wrong,” seuntai jaring yang melingkari Bumi kurang lebih hanya seberat sebatang sabun.

Protein serat halus yang dipintal laba-laba punya banyak kegunaan. Ketika bayi laba-laba menetas dari telur, bayi ini melepaskan sendiri jaringnya dan sabar menunggu agar terbawa angin dan tersebar ke lokasi baru, proses ini dikenal sebagai ‘balon’. Ketika bayi laba-laba mendarat, ia akan membuat jaring guna menangkap serangga untuk makan.

Menurut asisten profesor entomologi Linda Rayor di Cornell University, beberapa spesies laba-laba lebih memilih membuat jaring kecil di antara kaki dan menerkam serangga. Hal ini hanya butuh sedikit waktu dan energi dibanding membuat jaring besar yang rumit.

Beberapa laba-laba juga menggunakan jaring untuk membuat sarang pelindung atau kepompong, dan adapula yang memanfaatkannya agar bisa menempuh jarak beberapa meter memanfaatkan angin. Ada pula laba-laba yang mendaur jaringnya setelah tak dipakai.

Ilmuwan telah lama mencoba memahami mekanisme cara laba-laba membuat jaring, dan sejauh ini upaya menciptakan sutra di laboratorium sering gagal.

Apa yang membuat jaring sulit diciptakan secara artifisial adalah, molekul protein kompleks dan sekuens DNA berulang. Namun, ilmuwan paham bagaimana jaring mengeras dalam laba-laba.

Vollrath menemukan, laba-laba melalukannya dengan mengasamkannya, metode serupa proses pembuatan serat industri seperti nilon.

Setelah memeriksa saluran dalam laba-laba, Vollrath menyatakan, sebelum masuk saluran, jaring terdiri dari protein cair. Menurut artikel Vollrath di Nature, saat cairan masuk saluran, sel-sel menarik air dari protein jaring dan hidrogen dipompa ke bagian lain saluran dan menghasilkan bak asam.

Alhasil, jaring yang belum dipintal berubah dari gel menjadi serat solid melalui kelenjar asam laba-laba spinneret. Laba-laba memiliki 2-8 spineret, tergantung spesiesnya.

Spineret ini mengeluarkan berbagai jenis jaring, dari yang lengket hingga tidak, tergantung waktu yang dibutuhkan laba-laba.

[repost dari sini]

Continue Reading »

Wednesday, April 13, 2011

Hewan yang Menciptakan Alat dan Menemukan Solusi

Setiap hari kita menggunakan banyak alat hasil penemuan para ilmuwan yang mempermudah kita melakukan sesuatu. Dari yang paling sederhana misalnya sendok dan palu. Penemuan yang kompleks misalnya mobil dan telepon. Banyak orang berpikir bahwa hanya manusia yang menciptakan alat. Jangan salah, hewan juga banyak menggunakan alat bantu. Apa saja penemuannya? simak yuk! membawanya ke sarang. Berang-berang laut menggunakan batu sebagai palu untuk membuka cangkang kerang. Apakah sejak lahir mereka mengetahui hal ini? Ataukah mencontoh penemuan berang-berang yang lain?

Para ilmuwan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mengamati binatang di alam. Mereka telah mencatat bahwa semua berang-berang laut-muda dan tua-menggunakan batu untuk memecahkan cangkang keras. Pada dasarnya semua melakukannya dengan cara yang sama. Dan semua semut api menggunakan lumut dengan cara yang sama juga. Jadi penggunaan alat oleh berang-berang dan semut api mungkin merupakan kemampuan bawaan.


Penemuan Simpanse

Simpanse menggunakan ranting untuk menangkap rayap

Simpanse menggunakan ranting untuk menangkap rayap. Ia mematahkan ranting dengan panjang ideal. Lalu dengan hati-hati menusukkan alat ke lubang dalam gundukan rayap. Rayap menyerang tongkat, dan tongkat itu ditariknya keluar, telah dikerubuti oleh rayap lezat. Tidak seperti berang-berang laut, simpanse secara individu membuat dan menggunakan alat berbeda.

Simpanse muda belajar keterampilan dengan menonton simpanse lebih tua. Beberapa kali yang muda membuat penyelidikan dari sebuah ranting, alat ini kasar dan tidak bekerja dengan baik. Dengan berlatih, simpanse muda meningkatkan keterampilan mereka membuat alat.


Penemuan Tikus

Kita tahu tikus itu bisa menggerogoti dan merusak apa saja, tidak hanya kayu, plastik bahkan sabunpun digigitinya. Tapi tikus itu tidak mati karena menelan apa saja yang digerogotinya, bagaimana hal itu bisa terjadi?
Dr Paul Sherman dan Gabriela Shuster meneliti Gerbil- jenis tikus Afrika ini tinggal di bawah tanah, dengan koloni biasanya mencapai hingga tiga ratus ekor. Di laboratorium Dr Sherman Cornell University, mengurung mereka didalam rumah kotak plastik besar berlubang-lubang kecil untuk sirkulasi udara, di mana mereka langsung saja menggerogoti lubang dengan gigi depan yang besar, untuk membuat lubang bertambah besar, supaya mereka bisa kabur dari situ.
 
Sebelum menggerogoti plastik, supaya plastik itu tidak tertelan, tikus mencari sepotong kayu atau mengupas akar. Ia menaruh potongan atau kupasan di belakang gigi depan. “Pelindung” ini seperti perisai di mulutnya untuk menahan serpihan dan debu plastik masuk ke tenggorokan/tertelan.

Seekor tikus menggigit potongan kayu kayu di belakang giginya yang besar saat mengerat dinding kotak plastik. Potongan kayu tersebut menahan potongan-potongan plastik masuk ke tenggorokannya.

Dr. Sherman dan Ms. Shuster tidak yakin kapan tikus mulai menggunakan “pelindung”. Tidak ada yang melihat jika tikus menggunakan potongan kayu saat binatang pertama kali dibawa ke laboratorium dua puluh tahun yang lalu. Para ilmuwan juga tidak tahu apakah tikus liar menggunakan “pelindung” ketika mereka menggerogoti tanah karena tidak ada yang pernah melihat mereka bekerja di bawah tanah.

Untuk mempelajari lebih lanjut, Sherman dan Shuster menambahkan potongan batu-pasir halus, mirip dengan tanah asli. Tikus kadang-kadang menggunakan “pelindung”, tapi tidak sesering ketika mereka menggigit plastik. Ketika para peneliti menambahkan gabus, busa plastik, dan tanah liat, dan barang-barang yang bisa langsung rusak/patah dalam sekali gigitan, tikus tidak menggunakan “pelindung” untuk menggerogotinya. Jadi ia bisa menilai kapan ia butuh “pelindung” atau tidak.

Apakah semua tikus menciptakan “pelindung” untuk melindungi iritasi plastik dari leher mereka? Tikus di beberapa laboratorium menggunakan potongan kayu dengan cara yang sama. Ini bisa berarti bahwa semua tikus tahu cara untuk melindungi leher mereka saat menggerogoti sesuatu untuk mencari makan atau kabur dari suatu tempat.

Tapi hanya tikus yang lebih tua yang menggunakan potongan kayu. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa tikus muda dilahirkan tidak tahu bagaimana menggunakan potongan sebagai “pelindung”, tetapi harus belajar dari orang tua mereka. Itu berarti setidaknya seekor tikus menciptakan alat. Naluri atau penemuan? Tidak seorangpun yakin. Namun “keahlian” ini diwariskan turun-temurun.

Gagak Memecahkan Masalah dan Menemukan Solusi

Binatang lain yang dapat memikirkan solusi pemecahan masalah adalah gagak. Burung ini mengumpulkan batu, kemudian menjatuhkan mereka pada musuh. Apakah penemuan gagak? Untuk mengetahui, Dr Bernd Heinrich memberi gagak masalah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Dr. Bernd mengikat daging pada ujung tali panjang yang diikat pada sebuah dahan. Satu-satunya cara bagi gagak untuk makan daging adalah menarik tali sampai ke tenggeran tersebut. Tapi Dr Heinrich membuat masalah sulit dengan memilih sebuah tali yang sangat panjang. Apa yang kira-kira gagak akan lakukan ya?

Awalnya satu gagak mematuk tali atau menukik daging yang diikat tali itu, namun gagal. Akhirnya, seekor gagak yang lain bertengger di dahan dan menggulung pendek tali dengan paruhnya. Gagak menggunakan sebelah kakinya untuk menjepit tali ke dahan, mencegah daging dari jatuh ke tempat asalnya. Burung itu kemudian menggunakan paruhnya untuk menggulung benang pada dahan supaya menjadi pendek. Setelah mengulanginya beberapa kali, burung itu bisa mengambil daging. Pintar ya?


Gagak Menemukan solusi Mengambil daging yang diikat dengan tali panjang


Akhirnya, sebagian besar gagak lainnya yang melihat temannya melakukan itu, menggulung tali dengan cara yang sama. Setelah mereka mengetahui caranya, mereka dapat menggunakan cara dengan sempurna setiap kali. Karena tidak ada gagak yang tahu dari awal bagaimana cara memecahkan masalah, namun mereka berusaha menemukan caranya melalui beberapa kali percobaan, Dr Heinrich menyimpulkan bahwa mereka telah berhasil menemukan solusi.

Hewan selain manusia mungkin tidak akan menemukan alat rumit seperti komputer atau pesawat terbang. Tetapi beberapa dari mereka lebih kreatif dari yang mungkin Anda pikirkan. Jadi kita sebagai manusia yang telah dianugerahi akal oleh Tuhan, harus lebih kreatif mencari solusi sebuah masalah, jangan mudah menyerah.

 Ayo semangat!

[Repsol dari sini]
Continue Reading »